Life is As Short As a Time Between Adzan and Sholat. Isn’t It?

 

Beberapa hari yang lalu, di waktu libur seperti sekarang ini, kegiatan yang dilakukan adalah berbaring di tempat tidur selagi scrolling timeline Instagram. Lihat aktivitas teman-teman yang beragam. Ada yang jalan-jalan, ada pula yang hanya galau-galau-an.

Ada satu postingan dari teman saya yang cukup menyita perhatian. Foto nya bukan foto yang bikin mata sampe melotot-melotot sih. Tapi, caption foto nya bikin gemeter.

wp18116

When we’re born, Adzan is given. When we die, sholat is prayed. That’s how short life is. The time between adzan and sholat

Masya Allah. Satu paragraf ini bisa membuat saya sedikit termenung. Mengapa kita begitu sulit untuk rindu kepada Allah, padahal untuk bertemu dengan-Nya hanya modal niat, wudhu dan alat sholat.

Hidup kita hanya sepanjang seruan iqomah. Dipanggil untuk menunaikan kewajiban. Melakukan tujuan hidup yang sebenarnya.

Sulitnya sholat tepat waktu seperti merepresentasikan ke-tidak-siapan kita sebagai manusia untuk menerima kematian kelak. Selalu berpikir untuk bisa mengulur waktu dari akhir hayat. Dunia memang mengasyikan.

Hidup memang singkat. Melakukan yang terbaik memang sulit. Jika hidup hanya sepanjang kumandang iqomah, mungkin hanya Pencipta Alam yang akan selalu kita ingat.

Penuhi kewajiban, selagi iqomah masih terdengar.

 

Instagram teman : @aqilathalitha

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s